Sehat Dengan Mengkudu Secara Tradisional
Bagi masyarakat Indonesia, Morinda citrifolia, yang lebih dikenal dengan Buah Mengkudu atau Buah Pace, bukanlah sesuatu yang asing. Ia dikenal secara turun temurun sebagai obat untuk berbagai macam penyakit, diantaranya : menghilangkan rasa sakit, menyembuhkan luka, gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, menambah nafsu makan, masalah haid, dan lain-lain.
Sehat with mengkudu
Kalau kebetulan di lingkungan rumah Anda banyak pohon mengkudu, mengapa tidak mencoba mengkonsumsi buah mengkudu segar? Berikut ada beberapa resep sehat dengan buah mengkudu yang bisa Anda coba.
Resep pertama. Buah mengkudu muda dibuat jus dengan cara diblender bersama air masak secukupnya. Untuk penambah rasa, bisa dibubuhi sedikit madu. Diminum 30 menit sebelum sarapan.
Berkhasiat untuk membersihkan endapan lemak darah, sehingga dapat menyembuhkan aterosklerosis dan stroke, serta mencegah serangan jantung Dapat membatasi penyerapan lemak, konsumsi dan pembentukan lemak di dalam tubuh, sehingga dapat membantu program pelangsingan. Selain itu dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan meredakan pikiran tegang dan stress, gelisah dan rasa tak nyaman.
Resep kedua. Buah mengkudu matang dihaluskan, campur dengan rimpang lempuyang parut, dan beberapa sendok makan air masak. Peras kemudian diminum
Berkhasiat untuk mengobati sakit kuning karena peradangan hati, radang ginjal, dan radang limpa karena serangan malaria Membantu membuang cairan empedu dan kolesterol berlebihan. Menyembuhkan radang saluran kencing, yang disebut anyang-anyangan (kencing sedikit-sedikit dan terasa nyeri).
Resep ketiga. Buah mengkudu matang yang telah dihaluskan dicampur dengan rimpang lengkuas parut, dan beberapa sendok makan air panas. Peras, lalu diminum. Untuk penambah rasa, bisa dibubuhi madu atau gula batu.
Berkhasiat untuk menurunkan demam karena flu dan masuk angin, terutama pada anak-anak, mengobati radang tenggorokan dan radang amandel.
Khasiat Buah Mengkudu diantaranya..
* Menstabilkan tekanan darah dan aras kolestrol – otot jantung
* Gangguan dalam tubuh – kencing manis, sakit kepala, ginjal, buah pinggang, pundi kencing,
pundi hempedu dan tiroid
* Mencegah pertumbuhan sel kanser dan tumor
* Sistem pernafasan – resdung, asthma, bronkitis, hingus meleleh, batuk, sakit tekak, batuk
kering, kolera dan bayi yang demam selsema
* Gangguan penghadaman – perut kembung, ulcer, gastrik, cirit-beret, muntah-muntah, tidak
hadam, buasir, keracunan makanan
* Mulut dan Tekak – radang tekak, sakit gusi dan sakit gigi
* Sakit tulang dan sendi – terseliuh dan gout
* Penyakit kulit – bisul, luka, kurap, radang, ulser kulit
* Sakit puan – senggugut, gangguan haid
* Menghilangkan gatal – celah kelangkang, pelipatan, ulat air dan penyakit kulit
* Memulihkan kesan umum penuaan (awet muda)
* Menghilangkan ketagihan dadah dan rokok
* Membantu sistem kesuburan lelaki dan wanita
* Meredakan kesakitan (analgesik)
* Meningkatkan tenaga tubuh badan
* Mengurangkan stress (tekanan)
* Anti-oxidant
Perhatian:
Buah mengkudu hanya membantu mengurangkan atau meredakan penyakit diatas dan bukannya menjamin menghilangkan penyakit. Ini adalah kerana tiada kajian saintifik keatas semua penyakit tersebut yang diiktiraf oleh kerajaan Malaysia atau mana-mana badan didunia.
Perlu diingat, kesannya bergantung kepada tindak-balas badan setiap individu dan lama mana ia telah menghadapi penyakitnya. Jadi, untuk penyakit yang kronik atau sudah lama, ia mungkin mengambil masa yang lama. Oleh itukesabaran adalah diperlukan dengan terus menggunakannya,Insya Allah.
Sumber : http://www.ekafood.com/obat%20tradisional.htm
________________________________________________________
Sehat Dengan Mengkudu 2
Klasifikasi Mengkudu
Terdapat sekitar 80 spesies tanaman yang termasuk dalam genus Morinda. Menurut H.B. Guppy, ilmuwan Inggris yang mempelajari Mengkudu sekitar tahun 1900, kira-kira 60 persen dari 80 spesies Morinda tumbuh di pulau-pulau besar maupun kecil, di antaranya Indonesia, Malaysia dan pulau-pulau yang terletak di Lautan India dan Lautan Pasifik.
Hanya sekitar 20 spesies Morinda yang mempunyai nilai ekonomis, antara lain: Morinda bracteata, Morinda officinalis, Morinda fructus, Morinda tinctoria dan Morinda citrifolia. Morinda citrifolia adalah jenis yang paling populer, sehingga sering disebut sebagai “Queen of The Morinda”. Spesies ini mempunyai nama tersendiri di setiap negara, antara lain Noni di Hawaii, Nonu atau Nono di Tahiti, Cheese Fruit di Australia, Mengkudu, Pace di Indonesia dan Malaysia.
Filum: Angiospermae, Sub filum: Dycotiledones, Divisi: Lignosae, Famili: Rubiaceae, Genus: Morinda, Spesies: citrifolia. Nama ilmiah: Morinda citrifolia.
Botani Mengkudu
Mengkudu termasuk tumbuhan keluarga kopi-kopian (Rubiaceae), yang pada mulanya berasal dari wilayah daratan Asia Tenggara dan kemudian menyebar sampai ke Cina, India, Filipina, Hawaii, Tahiti, Afrika, Australia, Karibia, Haiti, Fiji, Florida dan Kuba.
Sejarah Pemanfaatan Mengkudu
Mengkudu berasal dari Asia Tenggara. Pada tahun 100 SM, penduduk Asia Tenggara bermigrasi dan mendarat di kepulauan Polinesia, mereka hanya membawa tanaman dan hewan yang dianggap penting untuk hidup di tempat baru. Tanaman-tanaman tersebut memiliki banyak kegunaan, antara lain untuk bahan pakaian, bangunan, makanan dan obat-obatan, lima jenis tanaman pangan bangsa Polinesia yaitu talas, sukun, pisang, ubi rambat, dan tebu. Mengkudu yang dalam bahasa setempat disebut “Noni” adalah salah satu jenis tanaman obat penting yang turut dibawa.
Bangsa Polinesia memanfaatkan “Noni” untuk mengobati berbagai jenis penyakit, diantaranya: tumor, luka, penyakit kulit, gangguan pernapasan (termasuk asma), demam dan penyakit usia lanjut. Pengetahuan tentang pengobatan menggunakan Mengkudu diwariskan dari generasi ke generasi melalui nyanyian dan cerita rakyat. Tabib Polinesia, yang disebut Kahuna adalah orang memegang peranan panting dalam dunia pengobatan tradisional bangsa Polinesia dan selalu menggunakan Mengkudu dalam resep pengobatannya.
Laporan-laporan tentang khasiat tanaman Mengkudu juga terdapat pada tulisan-tulisan kuno yang dibuat kira-kira 2000 tahun yang lalu, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Han di Cina. Bahkan juga dimuat dalam cerita-cerita pewayangan yang ditulis pada masa pemerintahan raja-raja di pulau Jawa ratusan tahun yang lalu.
Perkembangan industri tekstil di Eropa mendorong pencarian bahan-bahan pewarna alami sampai ke wilayah-wilayah kolonisasi, karena pada masa itu pewarna sintetis belum ditemukan. Pada tahun 1849, para peneliti Eropa menemukan zat pewarna alami yang berasal dari akar Mengkudu, dan kemudian diberi nama “Morindone” dan “Morindin”. Dari hasil penemuan inilah, nama “Morinda” diturunkan. Berikut adalah tabel sejarah perkembangan Morinda citrifolia:
Tahun
Keterangan
100 M
Imigran dari Asia Tenggara tiba di Kep. Polinesia dengan membawa bibit Mengkudu.
1849
Orang-orang Eropa menemukan zat pewarna dari akar Mengkudu, yaitu Morindon dan Morindin.
1860
Penggunaan Mengkudu untuk pengobatan mulai ditulis dalam literatur Barat.
1950
Penemuan zat antibakteri pada buah Mengkudu.
1960-1980
Riset-riset ilmiah dilakukan untuk membuktikan bahwa Mengkudu dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
1972
Ahli biokimia, Dr. Ralph Heinicke mulai melakukan penelitian tentang xeronine dan Mengkudu.
1993
Penemuan zat anti kanker (damnacanthal) di dalam buah Mengkudu.
Orang-orang Eropa mengetahui khasiat Mengkudu sekitar tahun 1800, yang diawali dengan pendaratan Kapten Cook dan para awaknya di Kepulauan Hawaii (tahun 1778). Kedatangan mereka turut membawa penyakit-penyakit baru, antara lain gonorrhea, sipilis, TBC, kolera, influenza, pneumonia yang dengan cepat mewabah ke seluruh wilayah Hawaii dan mengakibatkan kematian ribuan penduduk. Bahkan pengobatan tradisional masyarakat setempat tidak sanggup melawan penyakit-penyakit tersebut.
Para peneliti Eropa yang datang kemudian melakukan pencarian dan penelitian tentang sejarah dan kebudayaan bangsa Polinesia, termasuk sistem pengobatan tradisionalnya. Dan pada tahun 1860, pengobatan alamiah menggunakan Mengkudu mulai tercatat dalam literatur-literatur Barat.
(Sumber: Buku Sehat Dengan Mengkudu, Penulis Maria Goreti Waha, STP)

